Sabtu, 29 April 2017

PADA MALAM TAK BERTUAN

kadang berharap agar tak ada Matahari sesaat saja, agar kunikmati percakapan gilaku dengan malam.
meski penuh kepalsuan, tapi dramaku dengan malam lebih indah dari manusia tak mengira.
walau kadang malam tak jarang membuatku lemah, yang selalu mengingatkanku padamu.
Kau yang menyuguhkan kopi hitam diatas pandang kerlap lampu malam, waktu itu.
ingatkah ?
Mulut kita tak berhenti berkata, tawa diantara angin lembut membawa mesrah, lampu remang dan akustik membaur saja , syahdu
aku kau patri pada rasa yang berbeda, dimana aku menjadi satu-satunya wanita yang merasakan manis
malam itu.
..
namun saat ku teguh kopi yang kau suguh, "pahit"
"jangan berpura-pura lagi , kau suguhkan aku kopi hitan tak bergula, rupanya ."
malam tak sebecanda itu . sayang.
lalu malam berubah tak bertuan, hilang begitu saja kau dari hadapanku, tak ada berita kau tinggalkan saja aku dengan harap, " apa tak kau cicip dulu kopi ini sebelum ku berikan padaku ? "
..
berhenti sejenak pada akustik yang memecah, cajon bergema menyapa hati yang teluka .
pada malam yang tak bertuan aku putuskan
"kau hanya kenang yang menemani musik malam ku di sepi kota, bertatap namun tak berkata, lupa juga aku berkenalan, "hei kopimu ketinggalan"
pada malam tak bertuan
"kau dan kopimu hanya debu di sudut meja Cafe Ann  lewat tengah malam hilang ditiup angin tak berarah , takkan ku genggam takkan ku gapai. ku biarkan dan kulupakan

"jika kelak bertemu lagi  kan ku tegur pula kau, sebagai insan yang baru ku kenal , tanpa kenangan.

(LinstyneIndah 05-07-2017)
puisi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mahkota Nona Bunga

Nona tak bicara kala tanganmu menyentuh punggungnya Nona tak bicara kala bibirmu mencium bahunya padahal Nona bertahta . Nona tak berkata...